Cara Membuat Santan Bubuk

Cara Membuat Santan Bubuk – Kelapa merupakan pohon yang mempunyai manfaat mulai dari daun hingga daging buahnya. Pemanfaatan daging buah kelapa menjadi salah satu pemanfaatan yang paling banyak dari buah kelapa. Kandungan minyak dan protein yang penting dalam daging buah kelapa sering diolah menjadi kopra, minyak dan santan.

Cara Membuat Santan Bubuk

Santan sendiri adalah salah satu produk dari daging buah kelapa yang diparut kemudian diperes tanpa dicampur dengan air lebih dahulu. Santan ini digunakan sebagai penyedap untuk pada makanan seperti rendang, sayur lodeh, kolak, kari, opor, kue – kue, nasi uduk, dan sebagainya karena rasanya yang gurih dan sedikit asin.

Di Indonesia sendiri pengolahan santan sebagian besar masih dilakukan secara tradisional, namun bila kebutuhan akan santan dalam skala besar tentu hal ini tidaklah praktis. Selain itu santan segar paling lama hanya dapat bertahan selama 24 jam, itupun masih harus disimpan di dalam kulkas.

Kadar air, protein dan lemak yang tinggi di dalam santan menjadi media yang baik bagi mikroba untuk tumbuh. Oleh karena itu proses pengolahan yang tepat diperlukan untuk memperpanjang umur simpan dari santan dan juga untuk keperluan dalam jumlah banyak maupun bila ingin diekspor.

Sifat fisik dan komposisi yang terkandung di dalam santan hampir mirip seperti halnya susu sapi. Hal ini membuat santan dan susu sapi dapat ditangani dengan cara yang sama. Bila susu dapat diolah menjadi bubuk susu maka pengolahan sanatan juga dapat dilakukan dengan menjadikannya bubuk.

Proses Pengolahan Santan Bubuk

Untuk membuat santan bubuk diperlukan jenis kelapa dalam yang sudah tua dengan perbandingan parutan daging kelapa dan air adalah 1 : 2 dimana proses ekstraksi santan dilakukan dengan menggunakan press hidrolik. Setelah itu santan yang diperoleh akan dipisahkan menjadi skim dan krim menggunakan alat “cream saparator”. Apabila tidak segera digunakan maka skim dan krim tersebut harus disimpan pada lemari pendingin dengan suhu 4 derajat celcius pada wadah tertutup yang tidak tembus cahaya.

Kemudian untuk meningkatkan kandungan padatan terlarut dalam santan akan digunakan bahan pengisi. Bahan pengisi ini terdiri dari Natrium kaseinat 10%, dekstrin dan Tween 80 dimana natrium kaseinat 10% dibuat dengan melarutkan kasein dalam air yang diatur pH-nya sampai 8,5 – 8,7 dengan menggunakan NaOH 0,1 N. Oleh karena itu penggunaan alat pH meter menjadi hal penting untuk memantau kadar pH larutan tersebut.

Setelah itu larutan tersebut akan dikeringkan menggunakan alat pengering semprot (“spray dryer”) yang pada awalnya hanya susu yang dikeringkan menggunakan alat ini. Namun pada perkembangannya, alat ini banyak digunakan untuk mengeringkan makanan bayi, tepung keju, tepung mentega, tepung santan, tepung sari buah, tepung konsentrat buah, tepung telur, bahan pemutih minuman dan lain – lain.

Alat lainnya yang digunakan untuk proses ini adalah homogenizer karena proses homogenisasi dilakukan pada tekanan tinggi untuk menghasilkan tepung santan dengan partikel yang lebih kecil. Hal ini bertujuan untuk membuat emulsi santan lebih stabil.

Perbandingan krim dan skim yang baik untuk santan yang akan diolah sebaiknya adalah 1 : 5. Setelah itu santan akan ditambahkan bahan kering yang terdiri dari 6,5% (berat kering) Natrium kaseinat 10%, 10% (berat kering) dekstrin dan 0,15% (berat basah) Tween 80. Santan utuh yang tidak dipisahkan menjadi krim fan skim dapat pula dibuat tepung santan, namun harus tetap diberi bahan pengisi. Akan tetapi hasil tepungnya kurang kompak dan kurang halus sehingga memiliki harga jual yang kurang.

Setelah bahan pengisi ditambahkan kemudian akan dilakukan proses pencampuran (mixing). Pencampuran ini dilakukan dengan bantuan blender atau mixer yang selanjutnya dihomogenisasi pada tekanan 1.000 – 1.500 psi, tahap selanjutnya adalah pemasukan bahan ke dalam pengering semprot. Pengisian bahan ke dalam pengering semprot dilakukan pada tekanan 4,5 – 5,0 bar dengan suhu udara masuk 170 – 185 derajat celcius dan suhu udara keluar 80 – 95 derajat celcius.

Selanjutnya tepung santan yang keluar dari “spray dryer” akan diukur kadar airnya menggunakan moisture meter. Bila kadar air tepung sudah sesuai kemudian akan dikemas dengan menggunakan plastik polietilen atau alumunium foil dengan sistem pengemasan vakum (hampa udara). Hal ini bertujuan agar santan dapat disimpan dalam waktu yang lama.